Keseimbangan Ekologi Diuji, Lahan Tidur di Kelurahan Maluhu Bangkit Tapi Monyet Liar Menyerbu

Visualisasi monyet liar di pemukiman warga. (Foto: Tim Redaksi)

KUTAI KARTANEGARA – Warga Kelurahan Maluhu, Kutai Kartanegara (Kukar), sedang menghadapi ujian tidak mudah dalam upaya membangkitkan kembali sektor pertanian hortikultura. Ketika lahan tidur mulai diolah menjadi kebun sayur, serangan monyet liar datang tak terduga, merusak tanaman dan mengancam hasil panen.

Fenomena ini tak hanya soal gangguan hama biasa. Lurah Maluhu, Tri Joko Kuncoro, mengakui ada dimensi ekologis yang harus dilihat secara jernih. “Kami tidak bisa memungkiri, aktivitas pertanian yang semakin meluas bisa mengganggu habitat satwa, termasuk monyet-monyet ini,” ujarnya saat, Senin (14/7/2025).

Lahan yang dulunya tak terpakai kini mulai ditanami sayuran seperti pakcoy dan jenis hortikultura lainnya. Namun, perubahan ini juga memicu pergerakan satwa liar dari kawasan hutan sekitar. Tanpa penghalang alami, monyet-monyet turun ke ladang dan merusak tanaman.

“Ini menjadi dilema. Di satu sisi, warga sangat antusias menghidupkan kembali lahan. Tapi di sisi lain, kita dihadapkan pada masalah ekologi yang tidak bisa dianggap enteng,” kata Tri Joko.

Serangan yang terjadi berulang kali ini telah menimbulkan kerugian nyata bagi petani. Mereka harus menanggung hilangnya sebagian hasil panen dan biaya tambahan untuk pengamanan kebun.

Beberapa warga mulai mencoba solusi darurat, seperti memasang pagar, menggunakan suara petasan, atau memelihara anjing penjaga. Namun semua masih bersifat percobaan, belum menjadi sistem perlindungan yang mapan.

Tri Joko menegaskan pentingnya pendekatan yang menyeluruh dalam menyelesaikan persoalan ini. “Kita perlu rencana jangka panjang agar pertanian dan alam tetap berjalan beriringan,” ucapnya.

Dalam waktu dekat, pihak kelurahan berencana menjalin komunikasi dengan pihak terkait seperti dinas pertanian dan lingkungan hidup. Tujuannya agar ada pendampingan teknis maupun kebijakan untuk membantu petani tanpa merusak keseimbangan alam. (Asu/ADV Diskominfo Kukar)

Exit mobile version