CATATAN RUSDIANSYAH ARAS:
Waktu berputar, musim berganti, namun jalinan silaturahmi tak pernah benar-benar putus jika diikat oleh ketulusan rasa. Rencana temu kangen atau yang akrab disebut bedapatan oleh para jurnalis senior—kini populer dengan julukan Wartawan Legend—dengan mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari (RW), kini bukan lagi sekadar wacana.
Titik koordinat dan waktu sudah dikunci: Sabtu, 13 Juni 2026, pukul 17.00 WITA. Tempatnya pun sarat memori, bertempat di Hotel Claro, gedung megah di kawasan Sempaja, Samarinda, yang dulunya kita kenal sebagai Hotel Atlet.
Di bawah komando Charles Siahaan sebagai Ketua Panitia, agenda ini jelas bukan sekadar reuni biasa. Ini adalah sebuah panggung bertemunya kembali serpihan memori, catatan sejarah, dan dinamika kemanusiaan yang sempat tertunda oleh ruang dan waktu.
Bagi seorang jurnalis, narasumber bukan sekadar objek berita atau pemenuh kolom halaman koran. Ada kalanya, hubungan yang terjalin selama bertahun-tahun di lapangan melahirkan ikatan emosional yang melampaui batas profesionalisme kuasi-birokrasi. Rita Widyasari, di masa kejayaannya, dikenal sebagai figur pemimpin yang sangat dekat, terbuka, dan “bersahabat” dengan para kuli tinta. Maka wajar, jika menyongsong sore di hari Sabtu nanti, ada getaran rindu yang berkejaran di dada para wartawan gaek Benua Etam.
Cerita di Balik Jeruji yang Telah Usai
Tentu saja, daya tarik utama dari bedapatan jelang senja ini adalah rangkaian cerita pasca-bebas. Publik—dan khususnya kita para wartawan—pasti menyimpan rasa penasaran yang sama:
Bagaimana ritual adaptasi seorang mantan orang nomor satu di Kukar setelah kembali menghirup udara bebas dan kembali ke tengah hangatnya keluarga?
Apa saja refleksi spiritual dan kontemplasi hidup mendalam yang dialaminya selama berada di dalam, yang menempa jiwanya menjadi lebih tangguh?
Bagaimana ia melihat konstelasi Kalimantan Timur hari ini, yang telah jauh berubah wajah dan dinamikanya seiring dengan masifnya kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN)?
Selama bertahun-tahun, informasi tentang Rita tersaring ketat oleh dinding-dinding tebal jeruji besi. Kini, ketika pintu itu telah terbuka lebar, ada bendungan cerita yang siap mengalir jernih. Pertemuan dengan para Wartawan Legend ini ibarat gayung bersambut. Di satu sisi, Rita membutuhkan ruang yang nyaman untuk berbagi tanpa merasa dihakimi; di sisi lain, para jurnalis senior memiliki insting dan kebijaksanaan untuk menangkap esensi kemanusiaan dari seorang tokoh yang telah berhasil melewati badai besar dalam hidupnya.
Sentuhan Tangan Charles Siahaan
Menunjuk Charles Siahaan sebagai nakhoda acara bedapatan di Hotel Claro nanti adalah langkah yang sangat tepat. Sebagai jurnalis senior yang sudah kenyang makan asam garam dunia pers Kalimantan Timur, Charles tahu betul bagaimana mengemas pertemuan ini agar tetap elegan. Ia paham cara menjaga ritme agar acara tidak terjebak dalam formalitas protokoler yang kaku, atau sebaliknya, menjadi terlalu liar tanpa arah.
Kata Bedapatan sendiri membawa aura magis khas Kutai: sebuah pertemuan yang intim, penuh kerinduan, mendalam, dan tanpa sekat. Charles dan kawan-kawan tampaknya ingin mendudukkan momentum 13 Juni ini murni sebagai ruang silaturahmi.
”Ini bukan konferensi pers yang mengejar headline bombastis, melainkan ruang rasa tempat bertukar cerita tentang bagaimana hidup harus terus berjalan dengan senyuman setelah sebuah jeda yang panjang.”
Menghargai Esensi Kemanusiaan
Menyikapi agenda yang tinggal menghitung hari ini, kita semua diajak untuk melihat dari sudut pandang yang lebih bijak dan dewasa. Setiap manusia memiliki garis takdirnya masing-masing. Setiap orang memiliki masa lalu, melewati masa-masa sulit yang menguras air mata, namun setiap orang pula memiliki hak yang sama untuk menulis babak baru yang lebih indah dalam kitab kehidupannya.
Bagi para Wartawan Legend yang nanti hadir di Sempaja, pertemuan di hari Sabtu itu mungkin akan melahirkan guratan tulisan yang berbeda. Tulisan yang tidak lagi kaku berbicara tentang angka anggaran daerah atau manuver kebijakan politik, melainkan sebuah narasi humanis tentang ketabahan, keikhlasan penerimaan, dan arti hakiki dari sebuah kebebasan.
Mari kita tunggu, racikan cerita penuh makna apa yang akan dibawa pulang oleh Charles Siahaan dan kawan-kawan setelah jabat tangan dan pelukan hangat di Hotel Claro nanti. Karena terkadang, berita terbaik dan paling menyentuh jiwa justru lahir bukan dari riuhnya meja sidang atau megahnya podium pidato, melainkan dari kehangatan suasana sore hari, obrolan lepas, dan secangkir kopi tentang arti kehidupan yang sesungguhnya.(rd)


