KUTAI KARTANEGARA — Memasuki awal Agustus, cuaca di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Hujan yang biasanya turun rutin, kini mulai jarang membasahi tanah. Dalam dua pekan terakhir, hanya satu kali hujan tercatat mengguyur Tenggarong dan sekitarnya.
Fenomena ini menjadi peringatan dini bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar bahwa musim kemarau telah datang. Plt Sekretaris BPBD Kukar, Abdal, pun mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan mengambil langkah antisipatif sejak dini.
“Baru satu kali hujan dalam dua minggu. Ini bisa jadi pertanda kita mulai masuk musim kemarau. Biasanya kalau sudah kering, yang sering terjadi itu kekurangan air bersih dan karhutla,” kata Abdal, Sabtu (2/8/2025) .
Kekeringan menjadi ancaman nyata, terutama bagi daerah yang masih mengandalkan sumber air tanah. Ia menyebut Kecamatan Loa Kulu sebagai salah satu wilayah langganan kekeringan, karena sebagian besar warganya masih menggunakan sumur sebagai sumber air utama.
“Yang harus kami bantu itu masyarakat yang masih andalkan sumur. Kalau untuk pertanian, sejauh ini belum ada laporan sawah kekeringan,” tambahnya.
Sebagai upaya mitigasi, BPBD Kukar telah menyiapkan langkah strategis. Meskipun jumlah personel lapangan berkurang signifikan dari 34 menjadi 17 orang. Abdal memastikan koordinasi dengan relawan kecamatan tetap menjadi ujung tombak dalam penanganan cepat di wilayah terdampak.
Tak hanya itu, BPBD Kukar juga menjalin kerja sama dengan PDAM untuk mendeteksi kemungkinan pasokan air bersih terganggu di beberapa wilayah. Kesiapan ini dianggap penting mengingat kondisi kemarau bisa berlangsung dalam waktu yang tak menentu.
“Jangan boros. Kita harus kelola air dengan baik, apalagi di tengah musim kemarau seperti ini,” tegas Abdal, mengingatkan masyarakat untuk mulai berhemat air sejak sekarang.
Selain kekeringan, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat tajam saat musim kemarau. Aktivitas berkebun yang kerap disertai dengan pembakaran lahan menjadi salah satu faktor utama penyebab karhutla.
“Bukan tidak boleh membakar, tapi pastikan api benar-benar padam sebelum ditinggal. Lebih baik dilakukan bersama-sama, bergotong royong, dan dilaporkan dulu ke pemerintah desa,” jelas Abdal.
Meski peraturan membolehkan pembakaran lahan secara terbatas, namun pihaknya menegaskan pentingnya kewaspadaan dan tanggung jawab kolektif agar api tidak meluas dan merugikan banyak pihak.
Saat ini, BPBD Kukar tengah menangani kasus kebakaran lahan yang cukup besar di Desa Muara Siran, Kecamatan Muara Kaman. Luas lahan yang terbakar diperkirakan sudah mencapai 200 hektare, dan proses pemadaman masih terus dilakukan bersama tim lapangan serta relawan setempat.
Abdal menekankan bahwa kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi musim kemarau. Peran aktif warga dalam melapor, bekerjasama, dan menjaga lingkungan sangat menentukan dalam mencegah dampak bencana yang lebih luas. (Asu/ADV Diskominfo Kukar)



