KUTAI KARTANEGARA – Pembangunan Jembatan Sebulu, salah satu proyek strategis di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terpaksa ditunda sementara. Hal ini dipicu oleh air pasang Sungai Mahakam yang merendam area kerja dan membuat penyimpanan material ikut tergenang.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kukar, Wiyono, menegaskan bahwa penghentian pekerjaan bukan disebabkan pergantian kontraktor seperti isu yang beredar, melainkan murni karena faktor alam. “Stock pile agregat dan pasir tergenang banjir, sehingga pekerja tidak bisa melanjutkan kegiatan. Bukan karena kontraktor diganti,” jelasnya, Jumat (16/5/2025).
Wiyono menambahkan, kontraktor pelaksana Jembatan Sebulu Tahap I masih sama sejak dimulai tahun 2024 lalu. Namun, tingginya pasang Sungai Mahakam membuat aktivitas pembangunan benar-benar terhenti. “Kondisi ini juga dirasakan di banyak wilayah Kukar lain yang dilintasi Mahakam,” katanya.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kukar, Linda Juniarti, menegaskan bahwa penghentian bersifat sementara sesuai mekanisme kontrak.
“PPK melakukan penghentian sementara. Begitu banjir surut, pekerjaan akan dilanjutkan kembali,” ujarnya.
Sementara itu, pembangunan Jembatan Sebulu Tahap II yang dijadwalkan berlangsung tahun ini masih menghadapi kendala lain. Proses lelang sudah dua kali gagal meski nilai proyek sudah ditekan dari Rp330 miliar menjadi Rp138 miliar. Hingga kini, pemenang tender belum ditetapkan.
Menurut Linda, kondisi banjir menambah tantangan dalam menuntaskan pembangunan jembatan yang diharapkan masyarakat Sebulu sebagai akses penghubung baru.
“Semua pekerjaan otomatis terganggu. Harapan kita, air bisa segera normal agar kontraktor bisa kembali bekerja,” katanya.
Jembatan Sebulu digadang-gadang menjadi infrastruktur penting bagi mobilitas warga, distribusi logistik, sekaligus penopang konektivitas antarwilayah di Kukar. Namun, dinamika alam Sungai Mahakam kini menjadi faktor penentu yang tak bisa diabaikan.
Dengan situasi ini, Pemkab Kukar dituntut untuk mencari strategi antisipasi agar pembangunan infrastruktur vital tidak terus bergantung pada pasang-surut Mahakam yang kerap memicu banjir musiman. (Asu/ADV Diskominfo Kukar)



