KUTAI KARTANEGARA – Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong, mulai melakukan terobosan di sektor pertanian. Jika sebelumnya pola tanam hanya memungkinkan dua kali panen setahun, kini pemerintah desa mendorong petani untuk bertransformasi menuju tiga kali panen dalam satu tahun.
Kepala Desa Rapak Lambur, Muhammad Yusuf, menjelaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan program Optimalisasi Lahan (Oplah) Pertanian yang digagas Bupati Kutai Kartanegara. Program tersebut diharapkan mampu mengangkat produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal.
“Perubahan pola tanam menjadi tiga kali panen adalah langkah penting. Ini bukan hanya meningkatkan produksi beras, tapi juga menjadi strategi menghadapi tantangan pangan ke depan,” kata Yusuf, Rabu (21/5/2025).
Menurutnya, dengan tambahan satu musim panen, para petani bisa memperoleh hasil yang lebih besar dalam kurun waktu setahun. Hal ini tentu berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperluas peran Rapak Lambur sebagai desa penopang pangan Kukar.
Namun, Yusuf menegaskan bahwa transformasi pola tanam ini membutuhkan persiapan serius. Mulai dari ketersediaan air, penyediaan benih, pupuk, hingga sarana produksi lainnya harus dipastikan terpenuhi. Tanpa dukungan tersebut, produktivitas justru bisa terganggu.
“Pola tanam tiga kali panen tidak bisa dijalankan setengah-setengah. Harus ada keseriusan, baik dari petani maupun dari pemerintah desa dan daerah. Karena ini menyangkut siklus pertanian yang panjang,” jelasnya.
Selain dukungan sarana, perubahan pola tanam juga memerlukan perubahan pola pikir. Petani didorong untuk lebih terbuka dengan inovasi dan siap menjalani metode bercocok tanam yang lebih intensif. Pemerintah desa pun menyiapkan pendampingan agar proses transisi berjalan lancar.
“Kalau pola pikir petani sudah siap, maka transformasi akan lebih mudah. Kami ingin mereka melihat bahwa ini adalah peluang besar, bukan beban,” tambah Yusuf.
Ia optimistis, dengan implementasi yang konsisten, pola tanam tiga kali panen akan membawa dampak signifikan bagi Rapak Lambur. “Kami ingin desa ini menjadi contoh bahwa pertanian modern bisa dijalankan di tingkat lokal,” pungkasnya. (Asu/ADV Diskominfo Kukar)



