Opini  

Menghitung Hari ke Manado di Tengah Riuh Formatur KONI Kaltim

Rusdiansyah Aras Wartawan Senior dan Mantan Ketum KONI Kaltim. (Foto: redaksi)

Catatan Rusdiansyah Aras
(Jurnalis Senior / Mantan Ketua
Umum KONI Kaltim)

​Dalam dunia jurnalisme yang saya geluti puluhan tahun, ada sebuah adagium klasik: “Berita tidak pernah menunggu cetak, dialah yang memburu tenggat.” Rupanya, prinsip serupa hari ini sedang terjadi di panggung olahraga kita. Jarum jam terus berdetak maju, memburu tenggat menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri II 2026 yang dijadwalkan menggebrak Manado, Sulawesi Utara.

​Delapan cabang olahraga (cabor) petarung—mulai dari Tinju, Anggar, Muaythai, Kickboxing, Kurash, Hapkido, Kabaddi, hingga IBCA MMA—sudah bersiap di garis start. Di atas kertas, Kalimantan Timur adalah raksasa.

Benua Etam adalah kiblat olahraga di luar Pulau Jawa yang selalu disegani karena karakter petarungnya yang keras, taktis, dan pantang menyerah.

​Namun, menatap Manado kali ini, ada sebuah riak yang tidak bisa kita sembunyikan dari ruang publik. Di saat provinsi lain sudah sibuk mematangkan peak performance para atlet di pemusatan latihan, internal olahraga Kaltim justru tengah diuji oleh dinamika organisasi yang cukup menguras energi.

​Hingga pertengahan Juni 2026 ini, struktur kepengurusan definitif KONI Kaltim masa bakti 2026-2030 ternyata belum juga mengetuk palu final. Kita baru memiliki nakhoda tunggal, yakni sahabat saya H. Anderiy Syachrum yang terpilih sebagai Ketua Umum. Sementara gerbong kabinet di bawahnya masih tertahan di meja Tim Formatur. Kabar buntu (deadlock) dalam rapat penyusunan pengurus akibat dinamika eksternal beberapa waktu lalu, mau tidak mau, memantik alarm kewaspadaan kita bersama.

​Sebagai orang yang pernah menakhodai lembaga ini, saya sangat paham bahwa menyatukan berbagai kepentingan daerah dan Pengprov cabor dalam satu wadah setebal buku kepengurusan bukanlah perkara mudah. Tarik-ulur itu lumrah. Isu keterwakilan, akomodasi figur, hingga miskomunikasi—seperti yang sempat mencuat lalu klir bersama rekan-rekan SIWO PWI Kaltim—adalah bumbu yang biasa dalam sebuah transisi kekuasaan.

​Tetapi, ada satu hal yang harus kita sepakati bersama sebagai insan olahraga: atlet dan prestasi tidak boleh menjadi sandera dari sebuah birokrasi yang terlambat.
​Mengapa kepengurusan definitif ini menjadi begitu krusial dan mendesak?

​Pertama, legalitas anggaran dan eksekusi.
Meskipun Nota Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) tahun anggaran 2026 dengan Dispora Kaltim telah ditandatangani dengan dukungan nominal yang sangat aman dan solid dari Pemprov Kaltim, anggaran tersebut memerlukan struktur organisasi yang sah (definitif) untuk dicairkan dan digunakan secara operasional. Tanpa kepengurusan yang dilantik oleh KONI Pusat, pemanfaatan dana hibah untuk keperluan keberangkatan, pemusatan latihan, hingga uang saku atlet di Manado secara administratif akan menghadapi hambatan hukum yang berisiko.
​Kedua, komando teknis di lapangan.

Mempersiapkan kontingen multievent berskala nasional memerlukan kerja tim yang masif. Perlu ada Ketua Kontingen (CdM), Bidang Bina Prestasi (Binpres) yang memantau fisik atlet, Bidang Dana, hingga Bidang Humas. Tugas-tugas ini tidak mungkin dipikul sendirian di pundak seorang Ketua Terpilih.

Perlu ada pembagian kerja yang jelas agar atlet-atlet bela diri kita bisa berangkat dengan kepala tegak dan fokus total pada pertandingan, tanpa harus memikirkan urusan logistik yang tercecer.

​Kita harus mengapresiasi langkah tegas Ketua Terpilih, Anderiy Syachrum, yang langsung mengunci nama-nama inti untuk posisi strategis seperti Sekretaris Umum serta jajaran Ketua Bidang. Ini menunjukkan adanya iktikad kuat untuk segera memecah kebuntuan. Kini, bola panas itu ada di tangan Tim Formatur. Mereka harus bergerak dalam senyap, mengabaikan intervensi non-teknis dari luar, dan segera merampungkan draf susunan pengurus untuk diserahkan ke KONI Pusat.

​Sebagai jurnalis, saya melihat ini adalah ujian kematangan pertama bagi kepemimpinan baru. Dan sebagai mantan ketua, doa serta harapan saya tetap sama: Kaltim harus tetap menjadi yang terbaik.

​Waktu kita menuju akhir Juli tidak banyak. Ego kelompok atau personal harus dikesampingkan demi merah putihnya bendera Kalimantan Timur di Bumi Nyiur Melambai.

Mari selesaikan urusan rumah tangga ini di meja formatur secepatnya, agar kita bisa segera fokus pada apa yang paling mendasar: memastikan para petarung Benua Etam kembali ke Kaltim dengan kalungan medali emas, bukan dengan cerita tentang keterlambatan administrasi.
​Waktu terus berjalan, dan Manado sudah memanggil. (Rd)

Exit mobile version