SAMARINDA — Di tengah hiruk-pikuk Kota Samarinda, masih ada persoalan kemanusiaan yang luput dari perhatian. Dua jenazah tanpa keluarga hingga kini belum dapat dimakamkan setelah dievakuasi tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (INAFIS) Polresta Samarinda.
Kedua jenazah tersebut ditemukan warga di dua lokasi berbeda di Kota Samarinda. Setelah proses evakuasi, persoalan baru muncul: tidak ada keluarga yang datang mengurus, sementara biaya pemulasaraan hingga pemakaman menjadi kendala.
Kasubnit INAFIS Polresta Samarinda, Aiptu Harry Cahyadi, mengatakan kondisi tersebut bukan kali pertama dihadapi pihaknya. Bersama relawan Wadah Informasi Samarinda (WIS), ia selama ini berupaya menggalang donasi untuk membantu pemakaman jenazah tanpa identitas maupun keluarga.
“Kami biasanya kolaborasi dan himpun donasi bagi jenazah-jenazah yang tanpa identitas ataupun tanpa keluarga dan terbebas dari indikasi kriminal,” ungkap Harry, Sabtu (22/8/2026).
Namun, kali ini keterbatasan biaya membuat proses pemakaman belum dapat dilakukan. Bahkan, hingga Sabtu, kedua jenazah tersebut telah memasuki hari ketiga dan masih menunggu dukungan untuk dapat dimakamkan secara layak.
“Kami perlu dukungan pemerintah untuk hal seperti ini,” tegasnya.
Kondisi tersebut menjadi tamparan sekaligus pengingat bahwa persoalan kematian bukan hanya tentang proses evakuasi dan identifikasi. Ketika seseorang meninggal tanpa keluarga, negara dan pemerintah daerah semestinya hadir memastikan jenazah tetap mendapatkan penghormatan terakhir.
Jangan sampai seseorang yang semasa hidupnya tidak diketahui keluarganya, ketika meninggal dunia pun harus kembali berhadapan dengan persoalan biaya.
Kasus dua jenazah ini diharapkan menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Samarinda maupun pihak terkait agar tersedia mekanisme dan anggaran yang jelas untuk menangani warga meninggal tanpa identitas atau tanpa keluarga.
Sebab, kemanusiaan seharusnya tidak berhenti hanya karena seseorang tidak lagi memiliki keluarga yang mampu mengurusnya. (Sam/red)



