Oleh: H. Supian , Founder Rumah Harapan Rakyat Kaltim
Kalimantan Timur hari-hari ini tidak sedang baik-baik saja. Bukan karena kita kekurangan potensi, bukan pula karena masyarakatnya lemah. Justru sebaliknya—daerah ini kaya, masyarakatnya kuat, dan harapannya besar. Namun yang mengemuka justru kegaduhan, keresahan, dan rasa tidak pasti di tengah publik sejak kepemimpinan Rudy–Seno berjalan.
Kepemimpinan sejatinya adalah soal menghadirkan ketenangan. Di saat masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, ketidakpastian lapangan kerja, serta perubahan sosial akibat pembangunan besar seperti IKN, yang dibutuhkan adalah arah yang jelas, komunikasi yang jujur, dan kebijakan yang berpihak. Sayangnya, yang dirasakan sebagian masyarakat hari ini justru sebaliknya.
Kegaduhan yang muncul bukan tanpa sebab. Publik melihat adanya kebijakan yang tidak tersampaikan dengan baik, keputusan yang terkesan terburu-buru, serta minimnya ruang dialog yang sehat antara pemerintah dan masyarakat. Ini bukan sekadar persoalan teknis pemerintahan, tetapi menyangkut rasa percaya—modal paling penting dalam kepemimpinan.
Keresahan masyarakat Kaltim hari ini nyata. Kita mendengar suara pedagang kecil yang kesulitan, pekerja yang mulai merasa terpinggirkan, hingga generasi muda yang kehilangan arah karena kurangnya kepastian masa depan di daerahnya sendiri. Ironisnya, di tengah kondisi seperti ini, narasi yang dibangun justru belum mampu merangkul semua pihak.
Sebagai bagian dari masyarakat sipil, saya melihat bahwa pemerintah daerah seharusnya lebih peka. Kritik bukan untuk dijauhi, tetapi untuk didengar. Aspirasi bukan untuk dibungkam, tetapi untuk dijadikan bahan evaluasi. Ketika komunikasi publik melemah, maka ruang kosong itu akan diisi oleh spekulasi, kecurigaan, dan akhirnya kegaduhan.
Rudy–Seno perlu menyadari bahwa kepemimpinan bukan hanya soal menjalankan program, tetapi juga soal membangun rasa aman dan kepercayaan. Ketegasan diperlukan, namun harus diimbangi dengan kebijaksanaan. Kecepatan penting, tetapi tidak boleh mengorbankan kehati-hatian.
Kalimantan Timur tidak butuh pemimpin yang reaktif terhadap kritik. Kaltim butuh pemimpin yang hadir, mendengar, dan mampu merangkul semua lapisan masyarakat. Jika kegaduhan ini terus dibiarkan, maka yang tergerus bukan hanya citra pemerintahan, tetapi juga harapan rakyat itu sendiri.
Ini bukan tentang menjatuhkan, ini tentang mengingatkan. Bahwa di balik jabatan, ada amanah besar yang harus dijaga. Bahwa di balik setiap kebijakan, ada kehidupan masyarakat yang dipertaruhkan. (*)
Sudah saatnya kepemimpinan di Kaltim kembali pada esensinya: menenangkan, melindungi, dan menyejahterakan. Bukan sebaliknya.



