Ketika Cinta Berujung Luka, Kisah Ir yang Patah Hati dan Sakit Fisik di Samarinda

Ilustrasi (foto: Redaksi)

SAMARINDA — Malam itu, Minggu dini hari (26/10/2025), langkah Ir (21) terasa berat menapaki jalan pulang. Dua hari ia tak memberi kabar pada keluarga di Samarinda Seberang. Namun, ketika akhirnya pintu rumah terbuka, yang masuk bukan kabar bahagia, melainkan tangis dan luka.

Tubuhnya penuh lebam, matanya sembab, dan suaranya nyaris tak keluar. Dalam diam, keluarga Ir hanya bisa memeluknya — mencoba memahami kepingan kisah di balik luka yang tak seharusnya ada dalam sebuah hubungan yang disebut cinta.

Belakangan, diketahui bahwa Ir menjadi korban penganiayaan oleh kekasihnya sendiri. Cinta yang seharusnya melindungi, justru menyakiti.

Ketua Umum Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun, membenarkan peristiwa tersebut. “Korban pulang dalam keadaan menangis. Saat diperiksa, terlihat beberapa luka lebam di sekujur tubuhnya,” ungkapnya.

Menurut Rina, keluarga segera membawa Ir untuk visum dan membuat laporan resmi ke Polresta Samarinda. Korban kini juga mendapat pendampingan hukum dari TRC PPA Kaltim, agar proses keadilan berjalan tanpa tekanan.

Kasus ini menjadi satu dari sekian banyak kisah pilu perempuan muda yang terjebak dalam hubungan tak sehat. Di balik wajah lembut cinta, terkadang terselip amarah dan kuasa yang melukai.

Rina mengingatkan, “Cinta tidak pernah seharusnya disertai kekerasan. Jika ada tekanan, ancaman, atau luka fisik maupun batin, itu bukan cinta.”

Kini, Ir perlahan berusaha pulih — bukan hanya dari luka di tubuhnya, tapi juga luka di hatinya. Ia menjadi satu lagi suara yang mengingatkan banyak perempuan: bahwa mencintai diri sendiri adalah langkah pertama untuk selamat. (Sam/Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *