SAMARINDA – Bagi Ir (21), cinta yang seharusnya memberi kenyamanan justru berujung luka. Gadis asal Samarinda Seberang itu kini harus menanggung trauma mendalam setelah menjadi korban kekerasan oleh kekasihnya sendiri — seorang mahasiswa fakultas kedokteran di universitas ternama Kalimantan Timur.
Kisah mereka bermula di dunia maya. Awal 2025, Ir berkenalan lewat Instagram, kemudian berlanjut ke percakapan pribadi di WhatsApp. Hubungan itu tampak wajar di permukaan, namun di baliknya Ir menyimpan kesepian yang tak banyak orang tahu. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Ir menjadi yatim piatu dan kerap menutup diri dari keluarga besarnya.
Hingga suatu malam, pertemuan yang seharusnya jadi momen kebersamaan berubah menjadi mimpi buruk. Di sebuah hotel melati kawasan Pasar Pagi, Ir menjadi korban kekerasan setelah menolak ajakan kekasihnya untuk berhubungan badan.
Peristiwa itu kemudian mencuat ke publik setelah keluarga Ir melapor ke Polresta Samarinda, dan meminta pendampingan hukum dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kaltim.
“Korban sudah membuat laporan resmi dan melakukan visum. Kami akan kawal kasus ini hingga tuntas,” tegas Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, didampingi Biro Hukum TRC, Sudirman, Minggu (26/10/2025) malam.
Sudirman menambahkan, pihaknya berharap aparat penegak hukum bisa bekerja profesional, meski ada kabar bahwa beberapa oknum sempat mendatangi rumah keluarga korban.
“Kalau bicara damai, itu sudah pernah dicoba pada April lalu dengan kasus yang sama. Tapi sekarang tidak ada lagi ruang untuk berdamai,” ujarnya tegas.
Kasus Ir menjadi pengingat bahwa relasi cinta tak selalu berjalan seindah awal pertemuan. Di balik layar media sosial dan rayuan kata, ada luka yang kerap tak terlihat—dan keberanian Ir melapor adalah langkah penting untuk menolak kekerasan atas nama cinta. (Sam/Red)



