Sarkowi Usulkan Pendidikan Ala Barak Militer Diterapkan di Kaltim

Sketsa pendidikan ala Militer. (Foto: Tim Redaksi)

SAMARINDA- Gagasan pendidikan ala militer bagi siswa bermasalah yang diinisiasi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menjadi sorotan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur. Konsep pendidikan ala militer ini menarik untuk membentk karakter generasi muda agar lebih terarah.

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Sarkowi V Zahry, menyatakan dukungannya terhadap konsep serupa apabila diterapkan di Kalimantan Timur.

“Pendidikan seperti itu saya anggap bagus untuk membentuk karakter remaja yang susah diatur. Saya setuju karena gini, saya termasuk agak menyenangi dan mendalami soal sosiologi,” katanya, Rabu (28/5).

Pendekatan militer diyakini mampu menanamkan kedisiplinan dan membangun kebiasaan positif yang berkelanjutan. Politisi Golkar ini menilai, sebagian remaja memiliki kecenderungan baru mengikuti aturan jika diberi tekanan sistematis.

“Di kita itu seperti ada kecenderungan, kalau dipaksa itu baru dia akan mengikuti aturan,” ujarnya.

Sarkowi mengaitkan pandangan tersebut dengan pengalaman anak-anak yang aktif dalam organisasi seperti Pramuka. Ia menyebut anak-anak yang terbiasa menjalani kegiatan dengan sistem terstruktur lebih rapi dan tertib dalam perilaku sehari-hari.

“Anak-anak yang terlibat dalam organisasi dengan disiplin tertentu biasanya lebih punya kebiasaan baik, lebih teratur,” imbuhnya.

Selain itu, sejumlah nilai positif yang dapat ditanamkan melalui pendidikan bergaya barak militer, seperti kepatuhan terhadap waktu salat, kebiasaan makan yang teratur, hingga aktivitas fisik rutin.

“Begitu masuk di sana kan dididik. Itu salatnya diatur harus tepat waktu, duduk, cara makan, segala macam, kemudian harus olahraga, berdoa sebelum makan,” jelasnya.

Meski demikian, Sarkowi menekankan pentingnya kejelasan prosedur apabila program diterapkan di Kaltim. Menurutnya, pelaksanaan harus berbasis indikator yang terukur agar tidak memicu kontroversi.

“Tentu dengan prosedur yang kita tentukan, dengan target-target yang ditentukan. Artinya outcome sama output-nya harus jelas,” tegasnya.

Terakhir, Sarkowi melihat pendidikan berorientasi kedisiplinan tinggi bukan semata bentuk pembinaan, tetapi investasi jangka panjang dalam pembentukan karakter pelajar. Ia menyebut konsep ini bisa menjadi solusi atas meningkatnya kasus kenakalan remaja di daerah.

“Menurut saya malah bagus itu, tinggal bagaimana kita merancangnya secara tepat supaya tidak menyalahi hak anak dan tetap mengutamakan nilai pendidikan,” pungkasnya. (Asu/ADV*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *