SAMARINDA- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim) mendorong terobosan dalam sektor peternakan dengan mengusulkan pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan alternatif sapi. Upaya tersebut dinilai krusial dalam mewujudkan kemandirian pangan daerah dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan daging dari luar wilayah.
Ketua DPRD Hasanuddin Mas’ud mengatakan bahwa tingginya ketergantungan provinsi terhadap pasokan daging sapi dari luar daerah menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan lokal.
Hasanuddin menilai lonjakan permintaan daging yang terjadi setiap tahun harus diantisipasi dengan strategi penguatan sektor peternakan. Ketergantungan terhadap distribusi dari luar dinilai rentan dan membahayakan stabilitas pangan jangka panjang.
“Kondisi ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ketahanan pangan kita bisa terganggu jika selalu berharap pasokan dari luar. Harus ada terobosan agar peternakan sapi di Kaltim bisa mandiri,” tegas Hasanuddin di Samarinda, Senin (28/7).
Dalam upaya mewujudkan kemandirian tersebut, Hasanuddin mengusulkan pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan alternatif ternak sapi. Menurutnya, limbah sawit merupakan potensi besar yang selama ini belum diberdayakan secara maksimal.
“Limbah sawit itu sumber daya yang terabaikan. Padahal kalau dikelola dengan baik, bisa menjadi bahan pakan yang murah dan berkualitas. Ini peluang besar untuk menekan biaya produksi peternakan kita,” ujar politisi Partai Golkar itu.
Politisi Golkar ini menilai bahwa pemanfaatan limbah sawit tidak hanya efisien secara ekonomi, namun juga dapat membangun sinergi antara sektor peternakan dan perkebunan. Simbiosis mutualisme antara keduanya disebut mampu membentuk ekosistem usaha lokal yang berkelanjutan dan menguntungkan.
“Model ini bisa memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka lapangan kerja baru serta mendorong peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perkebunan,” imbuhnya.
Sebagai langkah lanjut, Hasanuddin menyerukan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan akademisi untuk menyusun peta jalan menuju swasembada daging sapi di Kalimantan Timur. Ia menekankan bahwa tujuan tersebut dapat tercapai jika didukung oleh inovasi dan keberanian untuk keluar dari pola lama.
“Swasembada daging di Kaltim itu sangat mungkin dicapai. Kuncinya adalah kolaborasi dan keberanian berpikir di luar pola lama,” pungkasnya. (Asu/ADV*)



