Senja Ramadan di Desa Tanpa Daratan: Tradisi “Nyeranting Bulan” di Muara Enggelam

Suasa sore di Desa Muara Enggelam Kabupaten Kutai Kartanegara. (Foto: Arn/Redaksi)

KUKAR — Ramadan perlahan sampai di ujung perjalanannya. Bulan penuh berkah yang selalu dirindukan ini sebentar lagi akan pergi, meninggalkan jejak kenangan, doa, dan kebiasaan-kebiasaan hangat yang hanya hadir setahun sekali.

Dari sudut Kutai Kartanegara, tepatnya di Desa Muara Enggelam, tersimpan cerita sederhana namun penuh makna. Desa yang berada di Kecamatan Muara Wis ini dikenal unik dengan julukan “desa tanpa daratan”, karena sebagian besar wilayahnya berupa perairan yang menyatu dengan kehidupan masyarakatnya.

Di bulan Ramadan, menjelang waktu berbuka puasa—atau yang oleh masyarakat umum dikenal sebagai ngabuburit—warga Muara Enggelam memiliki tradisi khas yang disebut “Nyeranting Bulan.” Sebuah istilah lokal yang menggambarkan aktivitas menunggu waktu magrib dengan cara yang dekat dengan alam.

Tradisi ini bukan sekadar mengisi waktu, tetapi menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Saat sore mulai merunduk, warga akan turun ke perairan, memancing ikan, atau mengecek perangkap yang telah dipasang sebelumnya. Aktivitas ini dilakukan dengan santai, tanpa terburu-buru, seolah menyatu dengan ritme alam yang tenang.

Tak hanya itu, sebagian warga juga memilih mengitari Danau Melintang menggunakan perahu kecil. Di atas permukaan air yang tenang, mereka menikmati panorama langit senja yang perlahan berubah warna—dari keemasan hingga jingga kemerahan. Momen ini menjadi perpaduan sempurna antara ibadah, tradisi, dan keindahan alam.

“Nyeranting Bulan” bukan hanya tentang menunggu azan magrib. Lebih dari itu, tradisi ini mencerminkan kesederhanaan hidup masyarakat Muara Enggelam, yang tetap menjaga nilai kebersamaan dan kearifan lokal di tengah perubahan zaman.

Ketika azan berkumandang, aktivitas pun berhenti. Warga kembali ke rumah masing-masing dengan hasil tangkapan atau sekadar membawa cerita senja hari itu. Di situlah Ramadan terasa begitu hidup—bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam kebersamaan dan tradisi yang terus dijaga.

Di Muara Enggelam, Ramadan bukan sekadar bulan suci. Ia adalah cerita, budaya, dan kenangan yang mengalir bersama air danau—tenang, namun penuh makna. (Sam/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *