SAMARINDA- Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, menegaskan pentingnya swasembada beras di wilayah Kaltim dalam enam bulan ke depan.
Untuk mencapai target swasembada beras menurutnya, potensi daerah sangat besar dan harus dioptimalkan agar tidak terus bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, menegaskan pentingnya pemanfaatan potensi pertanian daerah dalam upaya mencapai swasembada beras
“Daerah kita punya banyak keunggulan, terutama dari sisi lahan. Tinggal bagaimana pemerintah memanfaatkan peluang itu dengan strategi yang tepat,” katanya, Rabu (11/6)
Politisi PDI Perjuangan ini menyebutkan sejumlah wilayah seperti Kabupaten Paser, Kutai Kartanegara (Kukar), dan Kutai Timur (Kutim) sebagai contoh daerah yang memiliki cadangan lahan pertanian luas, namun belum tergarap optimal.
Sebagai langkah awal mencapai swasembada beras tersebut. Pemprov Kaltim diminta melakukan pemetaan wilayah yang potensial untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian.
“Langkah awal tentu pemetaan lahan-lahan yang potensial. Pemerintah harus tahu mana yang bisa segera digarap. Setelah itu, perlu dilakukan pengujian kualitas tanah,” jelasnya.
Pengujian kualitas tanah menjadi aspek penting untuk menentukan jenis varietas padi yang sesuai serta metode pengolahan yang tepat. Ia memberi contoh, jika tanah diketahui memiliki kadar pH tinggi, maka intervensi teknis harus segera dilakukan agar produktivitas lahan tetap optimal.
“Kalau misalnya diketahui kadar ph tanah tinggi, maka pemerintah perlu menyiapkan langkah intervensi teknis, seperti penyesuaian pupuk atau bahan perbaikan tanah lainnya,” tambahnya.
Namun, tantangan pengembangan sektor pertanian di Kaltim tidak hanya bersifat teknis. Ananda juga menyoroti minimnya minat generasi muda terhadap profesi petani, yang dinilainya sebagai hambatan serius dalam mendorong modernisasi pertanian.
“Kita masih kekurangan petani muda. Padahal, untuk mewujudkan pertanian yang maju, kita perlu SDM yang adaptif dan melek teknologi,” tuturnya.
Oleh karena itu, Ananda mendorong Pemerintah Daerah pemerintah untuk melakukan peningkatan edukasi serta sosialisasi mengenai potensi ekonomi dan prospek sektor pertanian kepada generasi milenial.
“Kalau anak muda tahu bahwa bertani sekarang bisa dilakukan dengan cara yang lebih canggih dan menguntungkan, pasti mereka akan mulai tertarik. Kita butuh perubahan paradigma,” pungkasnya. (Asu/ADV*)



