SAMARINDA- Dua Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kota Samarinda terdampak bencana longsor yang merusak puluhan makam dan memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, termasuk Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Jahidin.
Peristiwa pertama terjadi pada Selasa, 27 Mei 2025, di TPU Muslimin Cempaka, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu.
Dua hari berselang, longsor kembali terjadi di TPU Jalan Damanhuri, Kecamatan Sungai Pinang. Puluhan makam rusak parah, dan satu jenazah sempat tersingkap akibat tanah yang ambles. Ketua RT setempat segera menghubungi keluarga jenazah untuk penanganan awal.
Menanggapi kejadian ini, Jahidin menyuarakan keprihatinan mendalam. Ia menegaskan bahwa bencana tersebut bukan hanya soal kerusakan fisik, tetapi menyentuh aspek kemanusiaan dan martabat masyarakat, khususnya keluarga yang makam kerabatnya terdampak.
“Ini bukan sekadar longsor biasa. Ini soal menghormati yang telah wafat. Jangan tunggu viral dulu baru bertindak,” katanya, Senin (2/6)
Lebih lanjut, Politisi PKS ini mendesak agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, termasuk membangun turap atau penahan tanah di kawasan pemakaman yang rawan longsor. Menurutnya, anggaran daerah cukup untuk menangani hal tersebut.
“Kalau memang rawan longsor, ya dipendasi. Diberikan anggaran. Anggaran Kaltim cukup. Biar dibantu. Kalau sampai mayatnya kelihatan, itu sudah sangat mengerikan,” ujarnya.
Jahidin juga menyarankan agar warga terdampak segera mengirimkan surat resmi kepada pemerintah daerah maupun DPRD agar penanganan bisa diproses secara administratif.
“Warga disarankan menyurat ke pemerintah, termasuk ke DPRD. Soal begini nggak bisa kita diamkan,” tambahnya.
Selain itu, DPRD siap mendorong pemerintah provinsi dan kota untuk bergerak cepat, tidak hanya dalam bentuk pembangunan fisik, tetapi juga penguatan status kawasan rawan bencana di sekitar TPU.
“Ini menyangkut nilai penghormatan terhadap yang telah wafat. Pemerintah harus hadir, bukan hanya sebagai penonton,” pungkasnya. (Asu/ADV*)



