Museum Kayu Kukar Bertahan di Tengah Keterbatasan, Koleksi Mulai Rapuh Dimakan Usia

Kunjungan wisatawan lokal ke Museum Kayu Tenggarong. (Foto: Asu/redaksi)

KUTAI KARTANEGARA — Di balik kesan tenang dan sederhana, Museum Kayu Kutai Kartanegara (Kukar) menyimpan cerita panjang tentang bagaimana sebuah warisan budaya dirawat dengan segala keterbatasan. Berdiri sejak 1994, museum ini menjadi ruang edukasi penting tentang keragaman kayu khas Kalimantan, meski sebagian koleksinya mulai rapuh dimakan usia dan rayap.

Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman Disdikbud Kukar, M. Saidar—akrab disapa Deri mengungkapkan, sebagian besar koleksi kayu di museum sudah ada sejak awal berdirinya. Hingga kini, belum ada pergantian berarti.

“Kalau jenisnya ulin mungkin masih tahan, tapi beberapa jenis kayu lain sudah mulai rapuh. Apalagi sejak berdiri belum ada pergantian bahan,” jelas Deri. Senin (7/7/2025).

Keterbatasan anggaran membuat perawatan dilakukan dengan cara sederhana. Salah satu metode tradisional yang masih digunakan adalah merendam kayu dalam campuran air tembakau dan pelepah pisang kering. Cara murah ini terbukti cukup efektif memperlambat kerusakan, meski hasilnya tidak bisa maksimal.

“Anggaran khusus untuk perawatan sudah nggak ada sekitar empat tahun terakhir,” lanjutnya.

Koordinator Museum Kayu, Sophian Hadi, menambahkan, koleksi museum sebagian besar berasal dari wilayah hulu Kalimantan. Pada masa awal, museum sempat menggandeng Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman untuk identifikasi jenis kayu. Namun tidak semua koleksi memiliki dokumentasi lengkap mengenai asal-usulnya.

“Beberapa kayu ada yang dari Kebun Raya Samarinda atau Bukit Suharto. Tapi memang tidak semuanya terdokumentasi detail,” kata Sophian.

Selain kayu, museum ini juga menyimpan dua koleksi unik berupa buaya yang diawetkan. Perawatan hewan tersebut membutuhkan keahlian khusus dari dokter hewan. Sayangnya, karena keterbatasan anggaran, pengecekan rutin belum bisa dilakukan secara menyeluruh.

“Seharusnya buaya itu dicek kondisi pengawetannya oleh dokter hewan. Tapi dengan kondisi sekarang, kami hanya bisa lakukan semampunya,” ujarnya.

Dengan jumlah staf harian hanya 3–4 orang, perawatan museum lebih banyak difokuskan pada kebersihan. Pembersihan koleksi dilakukan secara manual setiap hari tanpa menggunakan bahan kimia, agar tidak mempercepat kerusakan material.

Meski terbatas, Museum Kayu tetap menarik perhatian pengunjung. Dalam sebulan, jumlah pengunjung tercatat 100–200 orang, terutama pada akhir pekan atau setelah Lebaran. Tidak sedikit dari mereka yang meminta pemandu untuk menjelaskan langsung cerita di balik koleksi.

“Kalau akhir pekan, banyak yang minta dipandu meskipun sudah ada papan informasi. Mungkin lebih enak dengar langsung ceritanya,” ungkap Sophian.

Museum Kayu Kukar kini menjadi saksi bisu tentang kegigihan menjaga warisan Nusantara. Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau Rp10 ribu untuk dewasa dan Rp5 ribu untuk anak-anak museum ini masih setia membuka pintunya hampir setiap hari, pukul 09.00–16.00 di hari kerja dan hingga 17.00 saat akhir pekan.

Di tengah segala keterbatasan, museum ini tetap berdiri, memastikan cerita tentang kayu-kayu Kalimantan tidak hilang ditelan zaman. (Asu/ADV Diskominfo Kukar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *