Teror Dini Hari di Sengkotek: Dapur Hancur, Warga Menunggu Janji Perusahaan

Kondisi terkini pasca kejadian tongkang tabrak dapur rumah warga. (Foto: Sam/redaksi)

SAMARINDA – Dini hari seharusnya menjadi waktu paling sunyi bagi warga bantaran Sungai Mahakam. Namun bagi Jayati, warga RT 17 Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Minggu (4/1) dini hari justru berubah menjadi teror yang akan sulit dilupakan.

Alarm tanda bahaya meraung keras, memecah keheningan malam. Suara itu bukan sekadar peringatan, melainkan pertanda petaka yang datang tanpa aba-aba. Jayati yang terbangun untuk buang air kecil mendadak terpaku. Dari arah sungai terdengar dentuman keras, disusul bayangan hitam raksasa yang menutup cahaya lampu di tepi sungai.

Dalam hitungan detik, sebuah tongkang bermuatan batu bara melaju tanpa kendali dan menghantam dapur rumahnya. Teriakan histeris Jayati pun pecah, membangunkan warga sekitar yang semula terlelap. Mereka berhamburan keluar rumah, menyaksikan pemandangan mencekam: dapur rumah warga rata disapu badan besi tongkang yang bersandar kasar di bibir sungai.

Beruntung, tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, kerugian materi tak terelakkan. Dapur yang selama ini menjadi pusat aktivitas rumah tangga kini rusak parah. Tak hanya itu, kramba ikan dan perahu apung pemadam kebakaran milik Kelompok Masyarakat (Pokmas) Probebaya yang berada di sekitar lokasi juga ikut terdampak.

Ketua RT 17, Setia Budi, mengatakan pascakejadian pihaknya langsung didatangi aparat serta perwakilan perusahaan pemilik tongkang. Meski demikian, hingga kini warga masih menunggu kepastian.

“Yang rusak ini bukan hanya dapur Ibu Jayati, tapi juga kramba ikan milik Pokmas Probebaya,” ujar Setia Budi saat ditemui di tepi Sungai Mahakam, Senin (5/1/2026).

Kerugian akibat rusaknya kramba ikan ditaksir mencapai Rp20 juta. Sementara untuk kerusakan dapur rumah Jayati, pihak RT belum berani menyebut angka pasti. Bagi warga, nominal bukanlah hal utama.

“Kita masih hitung dulu. Yang terpenting dapurnya bisa diperbaiki kembali seperti semula,” tegas Setia Budi.

Di balik puing dapur yang hancur, ada kecemasan yang terus mengendap di benak warga bantaran sungai. Insiden ini bukan yang pertama. Lalu lintas tongkang batu bara yang padat kerap menjadi ancaman nyata, terutama saat malam hari dan arus sungai tak bersahabat.

Kini, warga RT 17 hanya bisa menunggu. Menunggu janji perusahaan untuk bertanggung jawab. Menunggu rasa aman kembali pulih. Dan berharap, teror dini hari seperti yang dialami Jayati tak lagi terulang di sepanjang Sungai Mahakam. (Sam/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *