SAMARINDA – Upaya wartawan menjalankan tugas jurnalistik untuk kepentingan publik kembali menemui jalan buntu. Kali ini, hambatan tersebut terjadi di Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda. Niat melakukan konfirmasi kepada pejabat berwenang terkait peristiwa di alur Sungai Mahakam justru berakhir pada kekecewaan akibat pelayanan yang dinilai tidak tersistem, lamban, dan minim komunikasi.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kantor tersebut, wartawan tidak memperoleh kejelasan mekanisme pelayanan. Di pintu utama, situasi tampak berjalan tanpa alur yang jelas. Petugas penerima tamu terkesan pasif dan tidak mampu memberikan penjelasan memadai terkait prosedur konfirmasi maupun keberadaan pejabat yang berwenang.
Bahkan, dua perempuan muda yang berada di meja depan menimbulkan tanda tanya. Keduanya tidak menunjukkan identitas layaknya pegawai KSOP, mengenakan pakaian kasual ala kafe, serta tampak kurang memahami struktur dan nama-nama pejabat di lingkungan kantor. Ironisnya, pelayanan kepada pengunjung dilakukan sambil bermain gawai, di tengah hari kerja yang seharusnya produktif.
Waktu terus bergulir tanpa kepastian. Hingga sekitar 60 menit berlalu, wartawan masih dibiarkan menunggu tanpa penjelasan lanjutan. Tidak ada informasi resmi, tidak ada kepastian apakah konfirmasi dapat dilakukan, dan tidak ada itikad untuk menjembatani komunikasi dengan pejabat terkait. Situasi ini mencerminkan wajah pelayanan publik yang tertutup dan tidak ramah terhadap kerja-kerja pers.
Padahal, keterbukaan informasi publik merupakan kewajiban setiap institusi negara. Terlebih KSOP sebagai lembaga strategis yang mengemban tanggung jawab besar dalam pengelolaan pelabuhan dan keselamatan pelayaran. Sikap abai dan kurang komunikatif bukan hanya menghambat fungsi jurnalistik, tetapi juga berpotensi memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
Peristiwa ini terjadi pada Selasa sore (23/12) sekitar Pukul 15.15 WITA. Hingga wartawan meninggalkan lokasi, upaya konfirmasi tidak juga mendapatkan respons yang jelas.
“Pak Dedinya mau lanjut zoom meeting” singkat salah satu perempuan di meja tamu itu”
Kejadian tersebut menjadi catatan serius sekaligus sorotan tajam terhadap kualitas pelayanan publik dan komitmen transparansi di lingkungan KSOP Kelas I Samarinda. (Sam/red)



